Langsung ke konten utama

UNGKAPAN RASA


AKU TAK TAHU
Aku tidak paham mengapa semua ada di kepalaku,
Gayus, Antasari Ashar, Miranda Gultom, Susno Duaji, Andy, dokter Basyir, Alex, Pramusanto, Budi Muhammadi, SBY, Arief Busthan, dan masih beratus deretan nama-nama yang ada di kepalaku, dan masing-masing menduduki peringkat yang sama dan berbeda dalam penelusuran ketidaksengajaan , hingga hadir dalam renungan yang tak terencana.
Sementara ini ada 3 nama yang kurenungkan, sedang yang lain malas dan bosan untuk merenungkan.
Yang pertama  “ Pramusanto”, mantan pimpinan saya yang dengan rela hati dan ikhlas memilih jalan untuk tetap bersama saya dan rekan-rekan mantan anak buahnya, untuk momong anak –anak yang memiliki latar belakang sebagai manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ini saya tahu karena sewaktu beliau menjabat sebagai pimpinan sempat saya tanyakan dan jawaban beliau sungguh di luar pemikiran saya, meski menimbulkan kontroversi,
Yang kedua “ Arief Busthan”, yang dengan ketegaran dan kekuatan dalam menyumbangkan tenaga dan pikiran di daerah yang mayoritas penduduknya masih primitive dan terbelakang dalam  memperoleh hak pendidikan. Beliau sering berbagi kebahagyaan dalam menjalani kehidupan bersama orang-orang yang menjadi salah satu penunjang kwajibannya kepada rekan-rekan dan sahabat di jejaring social Facebook. Dan, ada status belaiu yang membuat saya tertawa lebar dan terbahak-bahak, yaitu  status beliau tertanggal  16 Maret 2011  :
Program studi korupsi di Indonesia :
1.     Pengantar Ilmu Korupsi 2 sks
2.     Pengantar Budaya Korupsi 2 sks
3.     Matematika Korupsi 4 sks
4.     Managemen Korupsi 2 sks
5.     Kelayakan orupsi 2 sks
6.     Bertahan Hidup di bui 2 sks
7.     Tugas Akhir 6 sks
...buruan daftar bagi yang berminat.. hahahahah
Kontan ketika kubaca, ku tertawa dan terenyuh, karena itu di tulis oleh seorang guru, dan tentu saja sangat berperan dalam pendidikan, Mengapa? Karena menurut saya apa yang terjadi pada bangsa ini, adalah sama sekali tak bisa terlepas dari sepak terjang pendidikan, dan  jika di Negara ini terjadi  seperti yang sekarang sedang menjadi pembicaraan hangat, bahkan telah terbukti dengan data-data yang pernah disampaikan oleh komisi korupsi dunia mengenai posisi Negara ini dalam urutan Negara-negara terkorup, maka apakah kita  masih mau mengelak bahwa ini adalah keberhasilan pendidikan di Indonesia??????!!!!!
Apa yang ada dalam pikiran saya tentang profile guru…
Apakah Guru tidak butuh uang?
Apakah Guru tidak butuh mobil bagus?
Apakah Guru tidak butuh rumah bagus?
Apakah Guru tidak ingin shopping?
Apakah Guru tidak butuh baju mahal?
Apakah Guru tidak butuh sepatu mahal?
Apakah Guru tidak butuh perhiasan mahal?
Apakah Guru tidak butuh ke Salon?
Apakah Guru tidak butuh segala macam yang menjadikan harga diri dan prestos naik sampai ke angkasa raya?
Apakah anak Guru tidak butuh sekolah?
Apakah anak guru tidak butuh pekerjaan?
Apakah anak guru tidak butuh kehidupan layak?
Apakah anak guru tidak butuh pengakuaan  bahwa dia hebat, orang tuanya kaya, dan segala macam pengakuan lain yang pantas untuk diceritakan dan di pamerkan?!
Ada hal lain yang selalu ada di angan saya, yaitu :
“SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN”
Judul itu terlalu manis di telinga saya, karena seolah guru benar-benar mendapatkan penghargaan yang sangat indah dalam menunjang tercapainya tujuan Nasioanal yang tentu saja sangat tergantung pada bagaimana dalam proses pelaksanaan pendidikan, namun ada hal lain yang berkecamuk dalam benak saya, benarkah tunjangan itu menjadi kontribusi utama dalam keberhasilan pendidikan di Indonesia, sedang dalam peristiwa yang saya perhatikan justru 60 % berkebalikan, bahkan berdasar penelitian yang telah dilakukan oleh PMPTK, yang datanya di sampaikan pada calon peserta sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2011, mengindikasikan bahwa lebih dari 50% penerima tunjangan professional guru dalam jabatan melalui jalur fortofolio mengalami penurunan kinerja, Lalu bagaimana dengan tujuan pemberian tunjangan tersebut yang berorientasi pada tujuan Nasional yaitu terciptanya masyarakat adil dan makmur, material dan spiritual berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Bila mengingat itu, maka ingatan sayapun  menggali peristiwa-peristiwa yang saya alami setiap hari, dan dari kejadian-kejadian itu saya simpulkan sendiri bahwa kenyataan di hadapan saya adalah :
Masih banyak orang yang hidup dengan keterbatasan dan menyentuh relung kemanusiaan.
Masih banyak anak-anak usia sekolah berkeliaran mencari sesuap nasi, karena memang tidak kemampuan orang tua dalam bidang ekonomi dan pendidikan keluarga.
Masih banyak kejahatan-kejahatan berbagai modus yang disebabkan kesulitan mencari nafkah untuk hidup, dan inipun menjadi kontradiksi dalam pemikiran saya, Karena orang yang serba berkecukupan saja melakukan kejahatan korupsi, apalagi  orang-orang yang mengalami kesulitan dalam mencari nafkah.
Sedang lepas dari itu semua, ada anak-anak yang hidup dalam kemewahan, orang-orang yang hidup dalam kelebihan hingga sampai bingung untuk menggunakan dan membuang kelebihan materinya.
Jika sudah begini, siapa yang salah?!
Masih terlalu dini untuk beranggapan bahwa tunjangan profesiolan guru dalam jabatan sangat tepat dan pas sasaran ?! Apakah sekali lagi kita hanya berpikir :
“ Guru dengan tunjangan professional dalam jabatan akan melaksanakan tugas guru dengan menjunjung tinggi kedisiplinan, dedikasi, rela berkorban, berperikemanusiaan, menghargai bangsa, siap berkompetisi dengan keadaan, tidak menggunakan tunjangan profesioanal untuk bergaya hidup bukan guru, mengejek rekannya yang belum mendapatkan, pamer tabungan, pamer mobil, dan lain-lain. Sedang guru yang masih muda, masa kerja minimal 5 tahun, dengan kualifikasi akademi Sarjana adalah guru yang lebih hebat  kontribusinya daripada guru yang sudah malang melintang lebih dari 20 tahun, sehingga mereka lebih berhak mendapatkan tunjangan profesi dan petentang petenteng tanpa rasa malu dan tahu diri, karena bangga sebagai sarjana.”
Sungguh sangat ironis memang.
Apakah alangkah pasnya jika tunjangan itu jsejak awal memperhitungkan pengabdian, prestasi, dan kontribusinya dalam pembangunan bangsa.
Akhirnya pemikiran saya hanya bisa mengiyakan pendapat saya sendiri .
Ini semua di tunjang dengan kejadian ketika saya menghadiri rapat sosialisasi Ujian Nasional di sekolah anak saya, beberapa penyampai materi mengatakan bahwa untuk ikut ujian Masuk PTN membutuhkan uang puluhan hingga ratusan juta untuk beberapa jurusan yang berbeda. Siapa yang punya uang sebanyak itu maka bisa melanjutkan ke PTN,  Ini membuat saya mengurungkan niat anak saya yang ingin melanjutkan kuliah di PTN, meski prestasi belajarnya di atas rata-rata, saya sampaikan padanya, sekolah dengan biaya yang tinggi-tinggi percuma, kalau nantinya hanya memperbanyak frekuensi para koruptor.
Entahlah, semua ini benar, atau dibuat benar, atau dibuat salah, semua tergantung pada manusianya masing-masing dan bagaimana menyikapinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Husband series

My husband You're not as handsome as Syahrukh Khan But your ray of love exceeds the brightness of the Moon My husband Your steps are not as swift as Van Damme But your love is stronger than nuclear power My husband You're not as smart as Einstein But the intelligence of your love exceeds all the formulations that exist My husband You're not as rich as a billionaire But the integrity of your love is at stake in the prestigious love competition My husband You do not have my love But you bet for all my happiness My husband You are neither king nor ruler But your word becomes a matter of absolute completion My husband Who are you? I can't walk the road to understand you

Coretan di pagi hari

 KETIKA Ketika insan telah bertumpuk harta Ketika semua menjadi alat tuk kesombongan Ketika jabatan buat terlena dalam kemunafikan Ketika merasa semua itu miliknya Tak ingat si empunya sebenarnya Tak ingat ada lahan tuk cetak kebaikan Tak ingat ada sekumpulan manusia yang membutuhkan Tak ingat kelak semua kembali kepada si Empunya Bermegah-megak tak terpikir keruntuhan Bergaya foya tak terpikir kemiskinan Lupa diri tak tengok sesama Berpamerria tanpa sadar semua hanya titipan. Ketika semua sudah saatnya Saat diruntuhkan Saat tak ada waktu  Saat sendirian Saat semua diambil oleh Sang Pencipta Apa hendak dikata Tinggal puing-puing berserakan Hanya rintihan  dan tangisan Serta pencarian kambing hitam Semoga... Kita semua tersadar sebelum semua menjadi ketentuan Sang Empunya hidup Aamiin YRA